Cerita Perjuangan Pasutri Tunanetra, Jualan Kerupuk Demi Bisa Sekolahkan Anak

371 views

Tak semua orang mempunyai fisik yang sempurna. Ada sebagian yang menjalani kehidupannya dalam keterbatasan misalnya tak bisa melihat, tak bisa berjalan ataupun kondisi yang lainnya. Hal ini pula yang harus dialami oleh pasangan suami istri berikut ini.

Mereka adalah Pak Sandhi dan Bu Cuplik di mana keduanya tak bisa melihat. Awalnya, mereka bekerja sebagai tukang pijat untuk mencari rezeki. Namun, semenjak Bu Cuplik mengandung, keduanya pun memilih untuk jadi pedagang keliling.

Mereka berjualan tahu, pepes dan juga beberapa masakan yang lain. Sembari jualan, Bu Cuplik mengusap lembut perutnya yang saat itu hamil tujuh bulan. Beliau pun berdoa, ” Yang penting anak bisa makan dan harus bisa sekolah agar hidupnya jauh lebih baik daripada ayah dan ibunya” .

Akhirnya sang anak lahir dan diberikan nama Dimas. Setelah kelahiran anaknya, pasutri ini berusaha agar bisa membeli gerobak supaya mereka dapat menjual lebih banyak barang dagangan. Sekarang, keduanya berjualan kerupuk dan juga buah-buahan di Mertojoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Kerupuknya ini mereka dapatkan dari pengepul baik hati yang mengantarkan langsung dagangannya ke rumah mereka. Kerupuk tersebut, mereka jual dengan harga Rp5000 per bungkus. Untuk buah-buahan mereka dapatkan dari pasar yang biasanya dijual sekitar Rp12000 per kilonya. Keterbatasan fisik yang mereka alami pun sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk mengais rezeki.

Keuntungan dari jualan yang tak seberapa ini, mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga biaya sekolah anak. Meski cukup berisiko jualan keliling dalam kondisi yang tak bisa melihat, tetapi mereka sama sekali tak menyerah.

Pak Sandhi pun berharap semoga dirinya bisa menyewa tempat untuk jualan agar tak perlu lagi berkeliling. Namun, biayanya cukup mahal sedangkan penghasilannya tak seberapa.

Sumber Artikel: diadona.id

Comments are closed.