Niat Buka Puasa, Anak SD Ini Meninggal Dunia Karena Makan Sate Beracun Yang Dikirim Oleh Sosok Wanita Misterius

Pilu nasib bocah SD setelah menerima menerima paket makanan siap santap, sate, lalu menyantapnya. Tak dinyana, setelah itu siswa SD itu meninggal dunia diduga keracunan. Kejadian pilu siswa SD meninggal setelah makan sate ini di Bantul Yogyakarta. Akhirnya terungkap siapa orang yang harus bertanggung jawab dalam kasus yang merenggut siswa SD ini. Ternyata paket makanan siap santap sate itu dikirim melalui jasa ojek online. Sedangkan, pengirimnya seorang wanita.

Menurut keterangan yang dikutip dari TribunJogja.com ( grup Tribun-Medan.com), pengirim paket sate misterius itu adalah seorang wanita. Ahli forensik UGM berhasil mengungkap penyebab siswa SD tewas usai menyantap sate yang dikirim. NFP, bocah berusia 10 tahun asal Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, meninggal dunia setelah makan paket misterius sate lontong, Minggu (25/4/2021) kemarin.

NFP merupakan siswa kelas IV SD Muhamadiyah IV Karangkajen, Kapanewon Sewon. Bocah tersebut meninggal dunia setelah menyantap sate lontong pemberian orang tak dikenal. Paket sate lontong itu diterima oleh sang ayah yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (Ojol). Oleh sebab itu, setelah dikonsumsi, NFP malah meregang nyawa.

Minggu sore, sebelum tragedi tersebut terjadi, NFP masih terlihat mengikuti kegiatan pengajian di sebuah masjid tak jauh dari tempat tinggalnya. Menjelang magrib, NFP pun izin pulang karena berniat untuk buka puasa bersama ayah dan ibunya di rumah. Kasus kematian NFP gara-gara memakan paket makanan sate misterius pun menarik perhatian.

Diduga, NFP dan ibunya memakan sate berisi racun sehingga bereaksi cepat ke dalam tubuh. Lantas, apa kata ahli forensik UGM, dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF, mengenai kemungkinan racun yang ada di bumbu sate tersebut?
Seperti dikutip dari TribunJogja.com, dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF ahli forensik mengungkap penyebab sebenarnya bocah SD tersebut sampai meregang nyawa.

“NFP kemungkinan besar memang meninggal dunia karena racun,” tegas dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF kepada Tribun Jogja, Senin (26/4/2021). Namun, ia mengaku sulit untuk mengetahui jenis racun apa yang terkandung di sate tersebut jika hanya membaca dari berita. “Kami harus tahu terlebih dahulu gejalanya. Harus lengkap,” tambahnya. Gejala itu kemudian dihubungkan dengan hasil pemeriksaan di tubuh korban serta hasil uji sampel dari sisa makanan.

Ditanya apakah mungkin racun yang digunakan mirip dengan sianida, Lipur enggan berspekulasi. Menurutnya, peristiwa nahas yang menimpa NFP menjadi ranah kepolisian sehingga publik diimbau tidak berasumsi. “Harus menunggu pernyataan resmi dari aparat. Soal kepastian racun yang ada di bumbu sate, sebaiknya tunggu hasil laboratorium,” tandasnya.

Kronologi Kejadian – Semua bermula ketika ia habis istirahat dan menunaikan salat asar di sebuah masjid di Kota Yogyakarta. Tiba-tiba, Bandi dihampiri oleh perempuan tak dikenal, dimintai tolong untuk mengantarkan sebuah paket berisi sate ke wilayah Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.

“Ia minta tolong untuk mengantarkan paket ke rumah Pak Tomy di Kasihan. Saya bilang pakai aplikasi saja. Mbaknya beralasan nggak punya aplikasi ojol,” jelasnya. Saat itu juga, Bandi bergegas menuju rumah Pak Tomy, penerima paket yang berlokasi di daerah Kapanewon Kasihan. “Perempuan tersebut berpesan, pengirim paket makanan sate atas nama Pak Hamid,” ungkap Bandi. Sesampai di rumah tujuan, Bandi menelepon nomor kontak bernama Tomy, yang diberikan oleh perempuan pengirim paket.

Telepon Bandi pun direspons oleh Tomy. Namun, terjadi proses konfirmasi yang cukup lama karena keluarga Tomy merasa tidak memesan makanan apa pun pada hari itu. “Saya tanya, paket sudah sampai dan sesuai alamat, tapi kenapa tidak diterima? Bapaknya bilang ‘Sudah, dibawa kamu saja buat buka puasa’,” terang Bandi. Setelah pemilik rumah enggan menerima paket misterius tersebut, Bandi kemudian pulang menuju rumah.

Ia membawa serta paket makanan sate kiriman seorang perempuan dan ditolak oleh si penerima itu. Setiba Bandi di rumah, istrinya bernama Titik Rini dan sang anak, NFP, kemudian membuka paket sate tersebut. Bandiman beserta istri dan NFP kemudian memakannya bersama-sama.

Tak lama berselang, NFP yang makan begitu lahap mengeluhkan rasa sate yang pahit. “Pas saya makan nggak apa-apa. Ternyata, racunnya ditaruh di bumbu. Anak saya bilang bumbunya pahit. Ia lalu ke dapur dan muntah-muntah. Istri juga muntah-muntah. Anak saya lantas tidak sadarkan diri,” jelasnya.Karena panik, Bandi membawa putranya ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawanya sudah tidak tertolong.

“Meninggal dunia saat perjalanan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan di laboratorium, racunnya lebih kuat dibanding pupuk pertanian,” beber Bandi.

Awal Mula Kasus – Kapolsek Sewon, Kompol Suyanto, mengatakan ayah korban, Bandiman yang membawa sate tersebut.
Sebelum membawa sate tersebut pulang ke rumah, Bandiman yang berprofesi sebagai ojek online menerima pesanan offline.Bandiman mendapat order mengantar dua bungkus sate ayam atas nama Hamid dari seorang wanita di sebuah masjid di sekitar Stadion Mandala Krida, Kota Yogyakarta.

“Tukang ojek ini tidak menanyakan identitas pengirim. Perempuan, tetapi diatasnamakan Hamid,” kata Kapolsek Sewon, Kompol Suyanto. Diminta mengantarkan sate ke seseorang, Bandiman diberikan biaya lebih oleh sang wanita misterius. “Jadi Bandiman mendapat pesanan offline. Di daerah Gayam, Kota Yogyakarta ada seorang perempuan yang datang minta untuk mengantarkan makanan secara offline. Biaya Rp25.000, tetapi oleh perempuan itu diberi Rp30.000,”katanya, Senin (26/04/2021).

Tanpa pikir panjang, Bandiman langsung mengantarkan makanan tersebut ke Kalurhan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan. Sesampainya di alamat tujuan, Bandiman menelpon Tomy yang merupakan penerima makanan tersebut.
Namun saat ditelepon, Tomy sedang berada di luar kota. Tomy juga tidak mengenal sosok pengirim, sehingga makanan tersebut diberikan kepada Bandiman.

Sumber Artikel: tribunnews.com

 

Comments are closed.