Kisah Seorang Ibu 2 Jam Berjalan Sambil Gendong 3 Balita tanpa Alas Kaki demi Sembako Dari Ibu Haji

Bukan cuman masalah ancaman kesehatan ketika berada di kerumunan saja, melainkan sekarang ini masyarakat luas tengah dihadapkan dengan kesulitan dalam perekonomian. Hal itu dikarenakan kebanyakan dari mereka tidak bisa bekerja normal, lantaran banyak orang yang lebih memilih menjaga diri untuk berada di rumah aja.

Dan beberapa orang alhamdulillah masih ada yang berminat untuk membagikan sedekahnya kepada orang lain, namun masih ada kisah sedih di balik kebaikan semacam ini. Wabah virus Corona di Indonesia membuat tidak sedikit masyarakat terpuruk seperti yang dialami Imas Yani (30) yang terpaksa berjalan kaki tanpa alas demi mendapatkan sembako.

Tidak sendiri, Imas Yani (30) warga Kampung Cikanyere RT 03/04, Desa Cieundeur, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur turut membawa4 anaknya berjalan ke rumah dermawan. Belakangan orang kaya itu dipanggil Bu Haji. Mereka menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer untuk mendapatkan sembako gratis dari Bu Haji di kawasan Bilenglang, Kecamatan Cilaku.

Dari empat anak yang diajak, tiga orang masih balita dan mereka tidak mengenakan sandal. Empat anak Imas adalah Iis Samsiah (2,5), Najir (3), Anisa (4), dan Fitria (10). “Saya berjalan kaki pergi dari rumah tadi pukul 06.00 WIB, tiba di rumah bu haji tadi pukul 08.00 WIB,” kata Imas dilansir tribunjabar.id.

Ibu berusia 30 tahun itu bercerita setiap tahun jelang lebaran ia selalu datang ke rumah dermawan itu untuk mendapatkan beras dan minuman. Setelah bantuan ada di tangan, ibu dan empat anaknya itu kembali pulang jalan kaki. Mereka memilih jalan kaki karena tak memiliki ongkos untuk naik kendaraan umum.

“Saya tidak dapat bantuan covid-19, sudah setiap tahun saya seperti ini berjalan kaki ke rumah bu haji,” kata Imas. Ia bercerita perjalanan pulang lebih lama. Jika pagi dia membutuhkan waktu dua jam untuk jalan kaki sejauh 10 km karena cuaca masih teduh dan tenaga mereka masih banyak.

Sedangkan saat perjalanan pulang, cuaca sudah panas sehingga mereka kerap berteduh. Selain itu mereka harus membawa barang bantuan di tangan. “Pulangnya lumayan lama ini, karena panas dan bawa barang jadi kami banyak berteduh, kasihan juga anak-anak ada yang tak pakai sandal jadi kakinya pasti panas,” katanya.

Saat ditemu Tribun Jabar, Imas dan empat anaknya sedang berteduh di emperan warung yang tutup di jalan perbatasan Kecamatan Cilaku dan Warungkondang. Keringat terlihat jelas di wajah mereka berlima. Mata Imas juga terlihat nanar ke menatap ke arah beton raya.

Ia terlihat lelah. Sedangkan tiga balitanya bersandar di dinding toko dengan kaki diselonjorkan. Sedangkan satu anaknya duduk dengan memeluk lutut meniru duduk sang ibu. Celana panjang tiga baita tersebut diturunkan hingga bagian bawah celana menutupi telapak kakinya.

Bagian bawah sengaja dibasahi air agar tidak panas saat menjadi alas kaki saat berjalan. Karena dibuat alas jalan, bagian bawah celana mereka kotor dan menghitam. Suara sang ibu terdengar parau, ia berusaha mengeluarkan suara lirih sambil meminta anak-anaknya untuk duduk mendekat.

Imas bercerita jika ia masih memiliki suami. Namun sang suami tak bekerja dan menganggur. Ia tak berdaya dan tak bisa mencari pekerjaan karena masih harus mengurus empat anaknya yang masih kecil-kecil. “Suami ada tapi menganggur,” kata Imas. Tak lama setelah beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Imas membawa tiga plastik bantuan dari dermawan yang ia panggil Bu Haji. Satu plastik berisi beras dan mi instan dan dua plastik berisi kecap, telur, dan makanan ringan. Saat mereka bejalan, sang anak yang masih kecil memilih jalan di rumput dan tanah utnuk menghindari beton aspal yang panas.

Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul Demi Sembako Gratis dari Bu Haji, Imas Ajak 3 Balitanya Jalan 10 Km Tanpa Sandal.

Comments are closed.