Setiap Wanita Memiliki Hak Untuk Menentukan Jalan Hidupnya Dan Menjadi Kuat Menurut Versinya Sendiri

Setiap wanita selalu punya cerita sendiri. Cara bertarungnya tentu tidak sama dengan yang lain. Wanita kuat dan hebat dengan caranya sendiri. Setiap pengalaman dan cerita memiliki inspirasi tersendiri seperti yang ditulis oleh Sahabat Fimela yang mengikuti kompetisi The Power of Women: Powerful and Great Women are You di bawah ini.

Aku pernah benci terlahir sebagai wanita. Sejak kecil, saya cukup sensitif dengan banyaknya stigma buruk yang melekat pada perempuan. Mulai dari “lemah”, “harus selalu dilindungi”, “rengek”, pokoknya banyak. Bahkan, ketika saya di sekolah, saya beberapa kali marah karena banyak anak laki-laki yang memandang rendah wanita.

Sempat ingin menjadi pria dan gaya tomboy
Tumbuh membaca serial detektif anak-anak Lima Sekawan karya Enid Blyton membuat saya ingin menjadi pria dan menyukai gaya tomboy. Boleh dibilang, saya terpengaruh oleh karakter Georgina “George” Kirrin dalam cerita.

George adalah gadis yang gesit, tomboy, dan pemarah. Pekerjaannya mengendarai sepeda, bermain dengan anjing kesayangannya bernama Timothy alias Timmy, hingga berpetualang bersama ketiga sepupunya setiap liburan sekolah. Yang menjadi ciri khas dari karakternya, George selalu berambut pendek, enggan memakai rok, dan lebih suka dianggap laki-laki daripada perempuan.

Pada saat itu, saya tidak tahu bahwa perilaku seperti itu terhadap perempuan adalah misogini yang terinternalisasi (kebencian terhadap bangsa sendiri). Aku baru tahu kalau aku mirip sekali dengan George—yang tomboy, tidak mau pakai rok (apalagi pink), dan diam-diam ingin jadi laki-laki. Apalagi banyak cowok di sekolah yang suka melecehkan cewek, lalu mengolok-olok mereka dengan nama rengekan sehingga cewek-cewek itu repot-repot menangis.

Sejak itu, saya mulai terobsesi untuk memukuli anak laki-laki dengan berbagai cara. Misalnya: pernah mengambil kursus seni bela diri, berharap suatu hari akan ada kesempatan untuk bertarung dengan seorang anak laki-laki. Fase ini diperparah dengan banyaknya orang dewasa di sekitar saya yang hobi membandingkan saya dengan kakak perempuan saya. Menurut mereka, saya harus lebih seperti kakak saya-mencoba merawat tubuh saya, berpakaian indah, suka memasak, suka bermain dengan boneka, pada dasarnya berperilaku manis menurut versi mereka.

Meskipun saya belum menonton film “Turning Red” pada saat menulis artikel ini, saya sudah bisa membayangkan ceritanya. Pertengahan sekolah dasar, saya mulai stres dengan perubahan tubuh saya sendiri. Punya saya, yang lebih besar dari ukuran gadis-gadis lain pada saat itu, pada gilirannya bisa menjadi sasaran ledekan anak laki-laki.

Tidak hanya itu, saya juga membenci menstruasi yang datang setiap bulan. Tubuhku terasa lemah. Saya cepat lelah. Bahkan ada beberapa kali saya hampir pingsan sehingga tidak masuk sekolah. ‘Tamparan’ itu semakin menyakitkan ketika mendengar komentar kakakku kepada Mama, “Kenapa Ruby kalau haid bisa bikin kamu pingsan gitu?”

Menyebalkan sekali, bukan? Baru-baru ini, tujuan saya adalah menjadi lebih kuat secara fisik. Semakin aku benci menjadi seorang wanita, meskipun aku sadar aku juga tidak ingin menjadi laki-laki. Saya juga benci anak laki-laki yang sangat suka meremehkan wanita.

Syukurlah, saya segera menyadari bahwa menjadi wanita yang kuat tidak berarti harus sama dengan standar orang lain, termasuk setara dengan pria. Padahal, setiap manusia memiliki kelebihan dan kelebihannya masing-masing.

Tidak perlu membandingkan kekuatan pria dengan wanita. Padahal, baik pria maupun wanita memiliki kelebihan dan kelebihan yang berbeda. Bukankah itu sifat manusia? Mengapa kita harus saling menghina dan merendahkan? Mengapa harus ada standar yang sama yang dikenakan pada semua?

Saya mulai menemukan dan menghargai berbagai jenis kekuatan dari setiap orang yang saya kenal, terutama wanita. Misalnya, Mama yang bertahan bertahun-tahun mengasuh tiga orang anak dengan tiga kepribadian yang berbeda.

Sahabatku di Australia, seorang wanita dua tahun lebih muda dariku, tapi lebih cepat dewasa sejak perceraian orang tuanya. Sejak kecil, gadis itu selalu berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa agar tidak mengganggu siapa pun.

Comments are closed.